WeLcome

Welcome To our blog....enjoy to this blog....


The NEWEST from us

The NEWEST from us
uLtah buLun & iNa

10 November 2009

KEBENARAN ITU PASTI TERUNGKAP CEPAT ATAU LAMBAT

Its second times writing ‘bout my life in this blog. Kalau biasanya gw nulis mengenai rajut-merajut, kali ini gw mau cerita mengenai sepupu gw yang hilang.

Weettzzzz,,,bingung?? Wajar kok, coz I never tell this story except for one. Kalau gitu gw kasih intro dulu dah:


Waktu kecil gw pernah diceritain kalo salah satu sepupu perempuan gw (anak terakhir dari kakak tertua bokap gw) tinggal di Jakarta dan diasuh oleh orang yang bukan anggota keluarga gw. Yup, dia diadopsi oleh orang lain sejak ia lahir. Katanya, gw waktu itu masih berumur 2 bulan, jadi bisa disimpulkan bahwa kami memang seumuran. Ibunya meninggal setelah melahirkan dia. Menurut cerita, karena keadaan ekonomi yang buruk terutama di desa terpencil (Pedalaman Pacitan red), serta menimbang ini itu yang gw gak ngerti (ampe sekarang), akhirnya dia diadopsi oleh pasutri yang emang gak punya anak.

Mereka bukan orang asing, mereka adalah atasan almarhumah yang cukup mengenal keadaan keluarga kami. Akhirnya dia diadopsi dan dibesarkan oleh mereka. Di anak perempuan ini hidup berkecukupan tanpa dia tau bahwa yang berada di sekelilingnya itu bukanlah keluarganya. Tak tau apa pertimbangan orang tua angkatnya itu sehingga menyembunyikan rahasia pada si anak ini. Bahkan pernah suatu kali, Bapak kandungnya a.k.a Pakde gw, pergi ke Jakarta dan berkunjung untuk mengetahui bagaimana keadaan anaknya yang paling bontot itu. Memang mereka dipertemukan oleh orang tua angkatnya, tapi bukan mengatakan bahwa orang ini Bapak kandungnya melainkan ‘sodara jauh’.

Kronologi gw tau kebenaran ini saat gw duduk di bangku SMP. Pakde gw cerita kalau anak perempuannya juga sekolah di SMP yang sama dengan gw. What??!! Gw kok gak ngeh siapa dia??
“iya put, Lia juga sekolah di SMP mu, kalian seumuran, harusnya kalian kenal, coba diinget-inget lagi”
seharusnya memang begitu, karena angkatan gw cuma tujuh kelas. Sekuper-kupernya gw, gw pasti tau. Cuma yang bikin gw heran, kenapa nama Lia ini luput dari ingatan gw yang cemerlang ini? (narsis banget yah gw). Sampai suatu hari Pakde gw berinisiatif menunjukkan fotonya Lia.

Daaang,,,,bagai petir di siang bolong. Ternyata Lia sepupu gw yang gak pernah terungkap adalah temen maen gw. Dari fotonya gw tau, nama lengkapnya Mufidah Aulia, dia biasa dipanggil Au, sedangkan Pakde gw manggil dia Lia. Pantesan aja gw gak tau. Meskipun kelas dia tepat berada di sebelah kelas gw, kalau gw nyari dengan nama Lia ya gak bakalan ketemu.

Kalau ditanya perasaan gw, jujur gw gak tau perasaan apa yang gw rasakan saat gw mengetahui kebenaran itu. Di usia gw yang muda saat itu, gw gak cukup mengerti arti perasaan yang berkecamuk di dada gw.
And after that, every time I saw her face, it seems like I really want to tell her what she didn’t know. Bener-bener pengen bilang, “Au, tau gak sih lo, kalau lo itu sodara gw. Bahwa lo bukan anak kandung bokap nyokap lo, bahwa lo masih punya bapak, dua kakak laki-laki dan satu kakak perempuan???”. Semuanya benar-benar pengen gw tumpah ruahkan kepadanya.

Tapi yang terjadi adalah niat menggebu-gebu itu gw urungkan dengan susah payah setelah bokap gw ngasih pengertian bahwa mengatakan yang sejujurnya itu bukan hak kita, ini mungkin memang gak adil tapi gak ada yang bisa kita lakukan selain berharap orang tua angkatnya akan sadar dan kebenaran itu akan muncul. Kita masih bisa berharap.

Di usia gw yang baru 13 tahun itu, amat sulit bagi gw untuk menelan bulat-bulat omongan bokap gw. Saat itu yang gw rasakan cuma sedih, di mana gw menyaksikan kebohongan di hadapan gw tapi gak bisa mengungkapkan yang sebenarnya. Hati gw sungguh pedih.

Kebenaran itu terasa terkubur seiring dengan berjalannya waktu. Kami lulus SMP, tak lama kemudian dia pindah rumah, lalu nomor hand phonenya ganti. Harapan itu lenyap tak bersisa. Totally lose contact. Hingga kemudian takdir mempertemukan kita kembali lewat facebook. Kalau kalian berpikir gw akan berterima kasih pada facebook, harus gw katakan kalian salah, gw berterima kasih pada temannya teman SD gw. Bisa dibayangkan seberapa jauh perantara yang menghubungkan kami kembali?

Waktu yang cukup lama membuatnya tidak ingat tentang gw meskipun friend request gw di approve (sepertinya, gw memang orang yang mudah untuk dilupakan). But its never mind, karena hingga kita listed as friend, kenyataannyan gw tetap gak bisa cerita yang sebenarnya, cukuplah gw tau keadaan dia baik-baik saja. Kadang gw curhat ini ke mas Ari (kakaknya Au), anak kedua Pakde yang cukup deket dengan gw, kayak abang gw sendiri dah. Hal lain yang bikin gw sedih adalah ketika mas Ari bilang, “kalo waktu itu aku punya kuasa, aku juga gak mau dipisahin ama adekku Put. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Umurku saat itu baru 5 tahun. Sampai sekarang aku masih ingat waktu dia dibawa mereka beberapa hari setelah pemakanan ibu”.


Cerita ini seperti sinetron bukan? Tapi bisa gw pastikan it based on true story,,,,yeeaahhh,,,,srroooottt!!! (jujur gw nulis ini sambil nangis, bodo amat dah kalo mata gw bengkak)

Kemarin mas Ari telpon gw, ini mah bukan hal aneh, di sela kerjaannya dia memang sering telpon gw untuk sekedar nanya kabar atau curhat berjam-jam. Gw emang udah kayak tong sampahnya sejak lama.
“Put, lagi ngapain?? Eh, mau tanya, emang sekarang kamu lagi UTS ya??”

“nih lagi berkutat dengan komputer yang lebih sering mati ketimbang idup. UTS mah udah lewat mas. Emang kenapa mas??”

“Aku maw cerita kabar gembira nih!!!!”, he sounds very enthusiast. “Tadi Aulia telpon Put, dia manggil gw kakak!!! Dia juga nanyain Bapak. Kayaknya dia udah tau Put”.

“Hah??!!!!” gw gak kalah antusias. “how come?? Kok dia tau nomer HP mas? Dapet dari mana yak? Ngomong apa aja dia?”.

“Aku juga gak tau, tapi kayaknya ibunya yang ngasih tau. Dia nanyain Bapak, trus dia juga minta alamat di Pacitan. Dia juga bilang pengen ke Pacitan liburan nanti, pengen nengokin Bapak. Tapi katanya sekarang dia lagi mau UTS, makanya aku tanya kamu”.

========obrolan selebihnya out of the record=============

Tapi gw harap para pembaca dapat menangkap intinya. Gw benar-benar bersyukur atas apa yang telah terjadi. Hopefully it was a happy ending story. Entah bagaimana kejadiannya, akhirnya dia mengetahui yang sebenarnya dan yang gak gw sangka adalah dia menerimanya dengan cukup baik. What next?? Mungkin gw akan ke Pacitan lagi untuk menyaksikan indahnya saat-saat terkuaknya kebenaran dihiasi suasana alam yang gak akan pernah ada di kota Jakarta. *lebay abiez*
Sekarang gw berharap bokap ngasih gw izin ke Pacitan lagi setelah lebaran kemaren ke Pacitan. Kemungkinannya kecil karena gak pernah terjadi sebelumnya dalam setahun gw mudik ampe dua kali. Tapi seperti kata beliau, kita masih bisa berharap.^^

Tidak ada komentar:

Here We Are

Here We Are